Ketua Muhammadiyah dan Ketua Umum
Dewan Dakwah: Wahabi Bukan Teroris
Ketua PP Muhammadiyah: Tak ada hubungan antara Wahabi dan terror
Ketua
Umum DDII KH Syuhada Bahri: Ada keinginan dari kelompok tertentu yang
tidak ingin melihat Islam berkembang maju. Caranya, dengan mengkaitkan
aksi teror dengan ajaran wahabi.
“Ajaran Wahabi itu mengajak untuk kembali kepada ajaran yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah,” katanya.
Dia menjelaskan, kalau ajaran Wahabi ini dilaksanakan dan diketahui
oleh umat Islam secara sadar, akan menjadi kekuatan yang dahsyat yang
bisa membawa umat kepada kemajuan. Umat Islam tidak akan terpuruk jika
berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah.
Beritanya sebagai berikut:
Muhammadiyah: Tak Ada Hubungan Wahabi dan Terorisme
Tuesday, 04 August 2009 10:02 Nasional
Salah
satu Ketua PP Muhammadiyah mengatakan, sebagian orang tak paham
tentang ajaran Muhammad bin Abdul Wahab. Tak ada hubungan antara Wahabi
dan terror
Hidayatullah.com–
Ajaran yang dikembangkan Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah ajaran
memurnikan tauhid. Jadi tak ada hubungannya dengan tindakan teror.
Pernyataan ini disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Dr Yunahar Ilyas, Lc
di Jakarta, Selasa (4/8).
Pernyataan ini disampaikan pak Yun, begitu ia biasa dipanggil,
seiring dengan berbagai stigma Wahabi yang diberikan oleh beberapa
gelintir orang.
Sebagaimana diketahui, sejak kasus bom Kuningan, beberapa orang yang
sesungguhnya tak mengerti Islam, tiba-tiba dibesarkan TV dengan
mengeluarkan stigma Wahabi sebagai biang teror.
Yunahar mengatakan, ajaran pokok Muhammad bin Abdul Wahab adalah
pemurnian ajaran Islam dari segala bentuk syirik dan khufarat yang
berkembang pesat pada waktu itu. Dari segi fiqih Muhammad bin Abdul
Wahab merupakan pengikut Imam Hambali, tetapi tidak fanatik.
Artinya, dakwah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab ingin mengembalikan
segala sesuatu praktik ibadah ke Al-Quran dan Sunnah. Ini yang disebut
dengan kembali pada paham salafusholeh. Sedangkan dari tauhid, dia
merupakan pengikut Ahlussunnah wal Jamaah, katanya menjelaskan.
Nah, menurut Dr Yunahar, sebagian orang tak paham dengan ini. Apalagi
dengan tuduhan-tuduhan negatif, bahkan dikaitkan dengan terorisme.
Selanjutnya, ia juga menilai, dari segi ajaran apa yang disampaikan
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab tidak ada celanya. Apalagi
dihubung-hubungkan dengan aksi terorisme. Dalam memerangi kemusyrikan,
Muhammad bin Abdul Wahab bekerja sama dengan Muhammad bin Saud dari
Kerajaan Saudi Arabia.
Karena itu, menurutnya, pengaitan terorisme dengan ajaran Muhammad
bin Abdul Wahab adalah tidak betul. Kemungkinan terjadi salah paham atau
ada maksud tertentu untuk mendiskreditkan Islam.
“Sasaran utamanya Islam, bukan hanya kelompok yang disebut Wahabi.
Kalau umat Islam tidak kompak, tinggal menunggu momentum saja untuk
memberangus kelompok Islam lainnya,” tuturnya.
Di samping itu juga, katanya, istilah Wahabisme sendiri tidak benar.
Istilah ini berasal dari pihak luar Islam yang tidak senang dengan
ajaran yang dikembangkannya. Dia sendiri dan pengikutnya menyebut
sebagai al-muwahhidun, orang yang bertauhid, ucapnya.
Sementara itu secara terpisah, Ketua Umum DDII KH Syuhada Bahri
mengungkapkan, ada keinginan dari kelompok tertentu yang tidak ingin
melihat Islam berkembang maju. Caranya, dengan mengkaitkan aksi teror
dengan ajaran wahabi.
“Ajaran Wahabi itu mengajak untuk kembali kepada ajaran yang bersumber dari al-Quran dan Sunnah,” katanya.
Dia menjelaskan, kalau ajaran Wahabi ini dilaksanakan dan diketahui
oleh umat Islam secara sadar, akan menjadi kekuatan yang dahsyat yang
bisa membawa umat kepada kemajuan. Umat Islam tidak akan terpuruk jika
berpegang kepada Al-Quran dan Sunnah.
Dia menjelaskan, di Indonesia dahulu yang dianggap Wahabi itu
organisasi Muhammadiyah, Persis, dan al-Irsyad. Dia mempertanyakan
apakah organisasi-organisasi Islam ini mau disebut teroris. Padahal
organisasi Islam tersebut telah lama memberikan kontribusi yang nyata
untuk negeri ini, pungkasnya. [
pel/cha/www.hidayatullah.com]